Efek Negatif Facebook

Diposting oleh SMP Roudlotul Aqoidi Bangil | Kamis, Februari 18, 2010 | | 0 komentar »

Beberapa efek negatif facebook dari sebuah Penelitian dan laporan dari majalah Daily ,seperti yang ditulis dibawah ini :) :

Suatu hubungan mulai menjadi kering ketika para individunya tak lagi menghadiri social gathering, menghindari pertemuan dengan teman-teman atau keluarga, dan lebih memilih berlama-lama menatap komputer (atau ponsel). Ketika akhirnya berinteraksi dengan rekan-rekan, mereka menjadi gelisah karena “berpisah” dari komputernya :D .

Si pengguna akhirnya tertarik ke dalam dunia artifisial. Seseorang yang teman-teman utamanya adalah orang asing yang baru ditemui di Facebook atau Friendster akan menemui kesulitan dalam berkomunikasi secara face-to-face. Perilaku ini dapat meningkatkan risiko kesehatan yang serius, seperti kanker, stroke, penyakit jantung, dan dementia (kepikunan), demikian menurut Dr Aric Sigman dalam The Biologist, jurnal yang dirilis oleh The Institute of Biology.

Pertemuan secara face-to-face memiliki pengaruh pada tubuh yang tidak terlihat ketika mengirim e-mail. Level hormon seperti oxytocin yang mendorong orang untuk berpelukan atau saling berinteraksi berubah, tergantung dekat atau tidaknya para pengguna. Beberapa gen, termasuk gen yang berhubungan dengan sistem kekebalan dan respons terhadap stres, beraksi secara berbeda, tergantung pada seberapa sering interaksi sosial yang dilakukan seseorang dengan yang lain.

Menurutnya, media elektronik juga menghancurkan secara perlahan-lahan kemampuan anak-anak dan kalangan dewasa muda untuk mempelajari kemampuan sosial dan membaca bahasa tubuh. “Salah satu perubahan yang paling sering dilontarkan dalam kebiasaan sehari-hari penduduk Inggris adalah pengurangan interaksi dengan sesama mereka dalam jumlah menit per hari. Kurang dari dua dekade, jumlah orang yang mengatakan bahwa tidak ada orang yang dapat diajak berdiskusi mengenai masalah penting menjadi berlipat.”

Kerusakan fisik juga sangat mungkin terjadi. Bila menggunakan mouse atau memencet keypad ponsel selama berjam-jam setiap hari, Anda dapat mengalami cidera tekanan yang berulang-ulang. Penyakit punggung juga merupakan hal yang umum terjadi pada orang-orang yang menghabiskan banyak waktu duduk di depan meja komputer. Jika pada malam hari Anda masih sibuk mengomentari status teman Anda, Anda juga kekurangan waktu tidur. Kehilangan waktu tidur dalam waktu lama dapat menyebabkan kantuk berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, dan depresi dari sistem kekebalan. Seseorang yang menghabiskan waktunya di depan komputer juga akan jarang berolahraga sehingga kecanduan aktivitas ini dapat menimbulkan kondisi fisik yang lemah, bahkan obesitas.

Tidak heran jika Dr Sigman mengkhawatirkan arah dari masalah ini. “Situs jejaring sosial seharusnya dapat menjadi bumbu dari kehidupan sosial kita, namun yang kami temukan sangat berbeda. Kenyataannya situs-situs tersebut tidak menjadi alat yang dapat meningkatkan kualitas hidup, melainkan alat yang membuat kita salah arah,” tegasnya.

Namun, bila aktivitas Facebook Anda masih sekadar sign in, mengonfirmasi friend requests, lalu sign out, tampaknya Anda tak perlu khawatir bakal terkena risiko kanker, stroke, bahkan menderita pikun. :-(

Lesson Study : from "teaching as telling" to "teaching for understanding"

Diposting oleh SMP Roudlotul Aqoidi Bangil | Kamis, Februari 18, 2010 | | 0 komentar »

What is Lesson Study ?

"Derived from the Japanese word jugyokenkyuu, the term 'lesson study' was coined by Makoto Yoshida...it can also be translated in reverse as 'research lesson', which indicates the level of scrutiny applied to individual lessons."

Lesson study is the primary form of professional development for Japanese teachers. Its goal is continual improvement of teaching so that children will learn more. Its primary focus is how students think and learn. It differs from other forms of professional development because it takes place in the moment of teaching and learning. Its focus, as described by Jim Stigler and James Hiebert in The Teaching Gap, is teaching not teachers, children working, not children’s work.

The success of a lesson study is measured in teachers’ learning, not in the perfection of a lesson. That better lessons are created is asecondary byproduct of the process but not its primary goal. Groups of teachers work to formulate lessons that are taught, observed, discussed, and defined. Teachers engage in lesson study only a couple of times a year because the process is intense.

In Japan, teachers improve their teaching through "lesson study," a process in which teachers jointly plan, observe, analyze, and refine actual classroom lessons called "research lessons". Lesson study is widely credited for the steady improvement of Japanese elementary mathematics and science instruction. Since 1999, lesson study has rapidly emerged in many sites across the United States.
In Lesson Study teachers:
• Think about the long-term goals of education - such as love of learning and respect for others;
• Carefully consider the goals of a particular subject area, unit or lesson (for example, why science is taught, what is important about levers, how to introduce levers);
• Plan classroom "research lessons" that bring to life both specific subject matter goals and long term goals for students; and
• Carefully study how students respond to these lessons - including their learning, engagement, and treatment of each other.

Lesson study involves groups of teachers meeting regularly over a period of time (ranging from several months to a year) to work on the design, implementation, testing, and improvement of one or several "research lessons" (Stigler & Hiebert, 1999). Research lessons are actual classroom lessons, taught to one's own students, that are (a) focused on a specific teacher-generated problem, goal, or vision of pedagogical practice, (b) carefully planned, usually in collaboration with one or more colleagues, (c) observed by other teachers, (d) recorded for analysis and reflection, and (e) discussed by lesson study group members, other colleagues, administrators, and/or an invited commentator (Lewis & Tsuchida, 1998).

During a three-year investigation of Japanese education, Lewis (2000) found that Japanese teachers were able to successfully shift their approach to teaching science from "teaching as telling" to "teaching for understanding" through intense studying and sharing during lesson study. Japanese teachers believe that time spent studying their lessons will subsequently improve their teaching. Furthermore, they believe that the most effective place to improve their teaching is in the context of a classroom lesson (Stigler & Hiebert, 1999). Japanese teachers consistently credit research lessons as the key to individual, school-wide, and national improvement of teaching (Lewis, 2000).

Sumber Artikel (klik di sini)

Facebook : beberapa dampak negatifnya

Diposting oleh SMP Roudlotul Aqoidi Bangil | Kamis, Februari 18, 2010 | | 0 komentar »

Facebook merupakan salah satu layanan jaringan sosial internet yang gratis dimana kita dapat membentuk jaringan dengan mengundang teman kita. Dan dari jaringan yang kita bentuk, dari facebook kita dapat memperhatikan aktifitas mereka, mengikuti permainan/ join game yang direkomendasikan, menambahkan teman atau jaringan kita berdasarkan organisasi sekolah, daerah domisili kita dan seterusnya.

Pengguna jejaring sosial Facebook sudah mencapai 300 juta orang, kurang lebih setara dengan jumlah penduduk Amerika Serikat.

“Jumlah pengguna memang sangat banyak, tetapi yang kami pikirkan dari jumlah tersebut adalah bahwa kami baru saja mulai mencapai tujuan kami, yakni menghubungkan setiap orang,” kata Mark Zuckerberg, Chief Executive Officer Facebook pada blog-nya. “ Mark Zuckerberg tidak memperhatikan dampak negatif dari facebook ……………………!!!!!!!!!!

Melihat perkembangan yang begitu pesat dari facebook. Terdapat beberapa dampak negatif (tidak sehat) yang melanda facebookmania dan jejaring sosial sekitarnya. Menurut saya dampak negatif ( tidak sehat ) dari facebook tersebut sebagai berikut :

  1. Banyak waktu yang terbuang sia-sia dan tidak bermanfaat.
  2. Penurunan produktifitas dalam bekerja ( yang jadi prioritas adalah facebook dulu ).
  3. Berkurangnya silaturahmi di dunia nyata.
  4. Dapat memicu pergaulan bebas yang tanpa batas. Terbuka peluang selingkuh heheheh……..
  5. Menjadi faktor resiko penyakit degeneratif, seperti jantung, kanker, stroke. Karena kurang geraknya anggota tubuh.
  6. Beresiko terjadinya beberapa penyakit fisik karena terlalu lama duduk dan memegang mouse. Seperti sakit punggung, nyeri sendi.
  7. Anda juga kekurangan waktu tidur. Kehilangan waktu tidur dalam waktu lama dapat menyebabkan kantuk berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, dan depresi dari sistem kekebalan.
sumber :http://www.sobatsehat.com/